Showing posts with label Terbaru. Show all posts
Showing posts with label Terbaru. Show all posts

Pengurus Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor (PP-GP Ansor) Masa Khidmat 2015-2020

Add Comment
Setelah melakukan kongres pada tahun 2015 lalu dengan dipilihnya Gus Tutut (Yaqut Cholil Qoumas) sebagai ketua PP GP Anshor 2015 – 2020.  Dan Berikut adalah susunan Pengurus Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor (PP-GP Ansor) Masa Khidmat 2015-2020

DEWAN PENASEHAT:
KETUA : Dr. KH. AS’AD SAID ALI
WAKIL KETUA : Prof. Dr. M. NASIR
WAKIL KETUA : SRI SULTAN HAMENGKUBOWONO X
EKRETARIS : FAHMI AKBAR IDRIS
ANGGOTA : H. SAIFULLAH YUSUF
ENDIN A.J. SOEFIHARA
Prof. Dr. Ir. H. MUHAMMAD NUH, DEA
Drs. A.H. MUJIB ROHMAT
Drs. H. AKHMAD MUQOWAM
HABIB RAHIM ASSEGAF
HABIB HILAL AL AIDID
Drs. IMAM MA’RUF
H. HASAN AMINUDDIN
DIPO NUSANTARA
HAMRA SAMAL
Drs. H. KHAIRUDDIN WAHID
Drs. QOHARI KHOLIL
DEWAN INSTRUKTUR:
KETUA : H. NUSRON WAHID
SEKRETARIS : Dr. H. MUHAMMAD AQIL IRHAM
ANGGOTA : Drs. AHMAD GHOJALI HARAHAP, M.Si
Dr. KH. ABDUL GHOFUR MAIMUN
Dr. H. JURI ARDIANTORO
HARIYANTO OGHI
AS’AD ISMA
SAHRAN RADEN
M.ILYAS
KH. AHMAD NADHIF
HABIB SHOLEH
KH. NAJIB BUCHORI
PENGURUS HARIAN:
KETUA UMUM : H. YAQUT CHOLIL QOUMAS
WAKIL KETUA UMUM : DHOHIR AL FARISI
BENNY RAMDHANI
AAM HAERUL AMRI
KETUA : HASAN BASRI SAGALA
KETUA : ABDUL HARIS MA’MUN
KETUA : SYAIFUL R. DASUKI
KETUA : HENDRIK KURNIAWAN
KETUA : MUJIBURROHMAN
KETUA : ALFA ISNAENI
KETUA : ZAKARIA R. PUATO
KETUA : ENDING SYARIFUDDIN
KETUA : MABRUR
KETUA : FAISAL ATTAMIMI
KETUA : SALEH RAMLI
KETUA : ABDUL HALIK RUMKHEL
KETUA : RUCHMAN BASHORI
KETUA : KH. M. LUTHFI THOMAFI
KETUA : M. AMIN
KETUA : AHMAD SYARIF
KETUA : RIZVI SHIHAB
KETUA : LUKMAN HAKIM
KETUA : RIZQON HALAL SYAH AJI
KETUA : SIDIK SISDIYANTO
KETUA : FAIRUZ AHMAD
KETUA : SUMANTRI SUWARNO
KETUA : FAISAL SAIMIMA
KETUA : ABDUL HAKAM AQSHO
KETUA : KH. SHOLACHUL AAM NOTOBUWONO
KETUA : IDY MUZAYYAD
KETUA : ASEP MULYA HIDAYAT
KETUA : NURUZZAMAN
SEKERTARIS JENDERAL : ADUNG ABDUL RAHMAN
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : CASWIYONO RUSDI CAKRAWANGSA
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : KHAIRUL ANWAR
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : AHMAD RIFQI AL MUBAROK
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : TIMBUL PASARIBU
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : JUWANDA
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : SHOLIHIN
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : AHMAD WARI
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : YUDHISTIRA
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : ULIL ARCHAM
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : MOH. HADIMUDIN
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : ABDUL MUIS
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : AMRAN HB
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : KH. AUNULLAH A’LA HABIB
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : BASRI SALAMA
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : ABDURRAHMAN S. FAUZ
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : MOESAFA
WAKIL SEKR ETARIS JENDERAL : NIZAR RAHMATU
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : JOHAN J. ANWARI
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : BAYU DARUSSALAM
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : ALFAN ASSIROZI
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : FATKHUL MASYKUR
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : MAS’UD SHALEH
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : CHUSNIL MUBARAK
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : MISKIL MINA MUNIR
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : MUHAMMAD IDRIS
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : MUH. MUGHNI
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : ABDUL QODIR AQIL
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : WIHAJI
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : MUHAMMAD AZIZ HAKIM
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : KH. MAHFUDZ CHAMIDZ
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : MUHAMMAD FADILAH
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : HADI MUSA SAID
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : MUHAMMAD NAHDLY
BENDAHARA UMUM : ZAINAL ABIDIN
WAKIL BENDAHARA UMUM : MUHAMMAD RIFAI
WAKIL BENDAHARA UMUM : SUBHAN AKSA
WAKIL BENDAHARA UMUM : HARRY SAPUTRA GANI
WAKIL BENDAHARA UMUM : ARIES YORDIANTO
WAKIL BENDAHARA UMUM : ZAINUL MUTTAQIN
WAKIL BENDAHARA UMUM: OKKI JANUARDO

Penatus Bersholawat bersama Habib Muhammad Al Habsyi


Ansor ~ Hujan rintik - rintik menyerbu kecamatan kembaran pada sore hari kemarin . Awan mendung yang menyelimuti, tak membuat rekan - rekan panitia mapun sahabat Banser / Ansor desa Pliken surut semangat untuk menyelenggarakan acara penatus bersholawat. Dengan semangat juang tinggi untuk menggemakan sholawat di desa Pliken, mereka bahu membahu mempersiapkan acara yang rencananya akan di mulai ba'da Isya.

Pukul 19.00. pengunjung mulai berdatangan. Panitia kian sibuk menyiapkan berbagai kebutuhan serta prasarana acara. Sahabat banser dan Ansor desa Pliken tak kalah sibuk, persiapan pengamanan untuk menjamin ketertiban acara di tata dengan membentuk pos - pos serta tempat parkir. Pukul 19.30, acara dimulai. Grup hadroh bersama vokalis ahbabul musthofa, gus elham dan gus wahid menyenandungkan sholawat yang ajib. Tak ketinggalan Kang Cahyo, sebagai koordinator acara ikut beraksi di panggung sholawat dengan menyanyikan beberapa lagu.

Hadirin yang kebanyakan adalah pemuda dan pemudi laskar sholawat tampak bersemangat untuk ikut hanyut dalam kenikmatan bersholawat, Sungguh luar biasa acara Penatus Bersholawat yang telah purna tadi malam. 

Acara tadi malam juga dihadiri oleh Muspika Kembaran. Dari Camat Kembaran ikut memberi sambutan dan mensupport kegiatan bersholawat sebagai benteng pada pemuda untuk berakhlakul karimah. Acara inti kemudian di isi oleh Habib Muhammad Al Habsyi, Cicit dari pengarang kitab maulid Simtud Duror yang telah masyhur di seantero dunia. 

Dalam pesannya habib Muhammad mengatakan  bahwa ketika mencintai nabi berarti di perbanyak sholat di masjid karena kini kebanyakan masjid atau mushola di makmurkan oleh kesepuhan atau lansia. Selain itu di himbau juga untuk mencintai tanah air karena akar radikalisme dan terorisme adalah pandangan buta masalah nasionalisme. 

Dalam acara tersebut, patut di acungi jempol semangat dan kerjasama dari Banser / Ansor Pliken yang luar biasa amanah pada acara tadi malam. Semoga koordinasi seperti ini bisa terus berjalan. Bisa menjadi inspirasi bagi yang lain. 

Syech Abdul Malik Kedung Paruk, Ulama Karismatik yang thawadu

Ansor ~ Purwokerto, ibu kota Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, merupakan salah satu pusat perdagangan dan pendidikan di kawasan selatan Jawa Tengah.Dulunya, kawasan ini, yang terletak di selatan Gunung Slamet, salah satu gunung berapi yang masih aktif di Pulau Jawa, adalah tempat menyingkirnya para pengikut Pangeran Diponegoro setelah perlawanan mereka dipatahkan oleh Kompeni Belanda. Maka tidak aneh bila hingga masa kini masih terdapat banyak sekali keluarga yang memiliki silsilah hingga Pangeran Diponegoro dan para tokoh pengikutnya.

Kota Purwokerto begitu tenang. Ter­gambar dari suasana kotanya, yang tak terlalu padat. Masyarakatnya juga ra­mah.Di daerah Ledug Kedung Paruk, Ba­nyumas, terdapat makam ulama besar Syaikh Muhammad Abdul Malik bin Syaikh Muhammad Ilyas. Ia ke­turun­an Pangeran Diponegoro, ayahanda­nya ada­lah cicit Pangeran Diponegoro. Garis keturunan nasab menyambung hingga ke Pangeran Diponegoro. Hal itu dikuatkan berdasarkan "Surat Kekancingan" (semacam surat pernyataan kelahiran) dari pustaka Kraton Yogyakarta. Syekh Abdul Malik adalah putra Muhammad Ilyas bin Raden Mas Haji Ali Dipowongso. Silsilah keturunannya bermuara hingga ke Kanjeng Sultan Hamengku Buwono III Yogyakarta.

Syaikh Muhammad Abdul Malik bin Ilyas adalah sosok ulama yang sa­ngat di­segani di Jawa Tengah. Ia dikenal se­bagai ulama yang mempunyai kepri­badi­an yang sabar, zuhud, tawadhu’, dan si­fat-sifat mulia lainnya, yang me­nunjukkan ketinggian akhlaq. Maka amat wajarlah masyarakat Banyumas dan sekitarnya sangat mencintai dan meng­hormatinya serta menjadikannya panutan.

Kehidupan Syaikh Abdul Malik sa­ngat sederhana, di samping itu ia juga sangat san­tun dan ramah kepada siapa saja. Ia juga gemar sekali melakukan silaturahim kepada murid-muridnya yang miskin. Baik mereka yang tinggal di Kedung Pa­ruk maupun di desa-desa sekitarnya, se­perti Ledug, Pliken, Sokaraja, Dukuh Waluh, Bojong, dan lain-lain.

Hampir setiap hari Selasa pagi, de­ngan kendaraan sepeda, naik becak, atau dokar, Syaikh Abdul Malik mengun­jungi murid-muridnya untuk membagi-bagi­kan beras, uang, dan terkadang pa­kai­an, sambil mengingatkan kepada me­reka untuk datang pada acara pengaji­an Selasanan, yakni forum silaturahim para pengikut Thariqah An-Naqsyaban­diyah Al-Khalidiyah Kedung Paruk yang diadakan setiap hari Selasa dan diisi de­ngan pengajian dan tawajjuhan (penga­rahan).

Syaikh Abdul Malik semasa hidup­nya adalah mursyid dua thariqah besar, yaitu Thariqah An-Naqsabandiyah Al-Khalidi­yah dan Thariqah Asy-Syadzi­liyah. Sa­nad Thariqah An-Naqsaban­diyah Al-Khalidiyah ia peroleh secara langsung dari ayahnya, yakni Syaikh Muhammad Ilyas, sedangkan sanad Thariqah Asy-Sadziliyah diperolehnya dari Sayyid Ahmad An-Nahrawi Al-Makki, Makkah.

Dalam hidupnya, Syaikh Abdul Malik memiliki dua amalan wirid utama, yaitu membaca Al-Qur’an dan shalawat. Ia membaca shalawat sebanyak 16.000 kali setiap harinya dan sekali menghatam­kan Al-Qur’an. Adapun shalawat yang diamal­kan adalah shalawat Khidhir AS, atau lebih sering disebut Shalawat Rah­mat, yakni “Shallallah ‘ala Muhammad”. Dan itu adalah shalawat yang sering ia ija­zahkan kepada para tamu dan murid­nya. Adapun shalawat-shalawat yang lain seperti Shalawat Al-Fatih, Al-Anwar, dan lain-lain.

Di samping dikenal memiliki hubung­an yang baik dengan para ulama besar umumnya, Syaikh Abdul Malik juga mem­punyai hubungan yang sangat erat de­ngan ulama dan habaib yang oleh banyak orang dianggap telah mencapai derajat waliyullah, seperti Habib Sholeh bin Muh­sin Al-Hamid (Tanggul, Jember), Habib Ahmad Bafaqih (Yogyakarta), Habib Husein bin Hadi Al-Hamid (Brani, Probo­linggo), K.H. Hasan Mangli (Mage­lang), Habib Hamid Bin Yahya (Soka­raja, Ba­nyumas), dan lain-lain.

Konon beliau mengamalkan lebih dari 12 thariqah,hanya yang diturunkan paling tidak 4 thariqah yaitu naqsyabandi al-khalidi, syadziliyah, qairiyah naqsyabandiyah dan alawiyah. Di samping memberikan pelajaran tentang ilmu tashawuf (Thariqah), beliau juga mengembangkan ilmu al-qur’an (tahfidul-qur’an dan qira;ah sab’ah). Tidak sedikit para hafidh dan qari’ datang kepada beliau untuk mengambil ilmu al-qur’an atau sekedar tabarukan.

Pada suatu riwayat, diceritakan, pada saat Habib Soleh Tanggul pergi ke Peka­longan untuk menghadiri sebuah haul, selesai acara haul, Habib Soleh berkata ke­pada para jama’ah, ”Apakah kalian tahu, siapakah gerangan orang yang akan datang kemari? Dia adalah salah seorang pembesar kaum ‘arifin di tanah Jawa.”

Tak lama kemudian, dari kerumunan orang yang menghadiri acara haul ter­sebut, datanglah Syaikh Abdul Malik, dan jama’ah pun terkejut melihatnya. Mereka tak menyangka bahwa yang dimaksud oleh Habib Soleh Tanggul adalah Syaikh Abdul Malik, orang yang begitu tawadhu’.
Hal yang sama juga dikatakan oleh Habib Husein bin Hadi Al-Hamid (Brani, Kraksaan, Probolinggo). Ketika Syaikh Abdul Malik berkunjung ke rumahnya ber­sama rombongan, Habib Husein ber­kata, ”Aku harus di pintu, karena aku mau me­nyambut salah satu pembesar wali Allah.”

Lima Belas Tahun di Makkah
Syaikh Abdul Malik lahir di Ke­dung Paruk, Purwokerto, pada hari Jum’at 3 Rajab 1294 H (1877).
Nama kecilnya adalah “Muhammad As’ad”, sedang nama “Abdul Malik” di­peroleh dari ayahnya, K.H. Muhammad Ilyas, ketika ia menunaikan ibadah haji bersamanya.
Syaikh Abdul Malik memperoleh pengasuhan dan pendidikan secara lang­­sung dari kedua orangtuanya dan sau­dara-saudaranya yang ada di Soka­raja, Banyumas, terutama K.H. Muham­mad Affandi.

Setelah belajar Al-Qur’an kepada ayah­­nya, Abdul Malik diperintahkan un­tuk melanjutkan pendidikannya kepada Kiai Abu Bakar bin Haji Yahya Ngasinan, Ke­basen, Banyumas. Selain itu, ia juga mem­peroleh pendidikan dan pengasuh­an dari saudara-saudaranya yang ber­ada di Sokaraja, sebelah timur Purwo­kerto. Di Sokaraja ada saudara Abdul Malik, yakni Kiai Muhammad Affandi, ulama sekaligus saudagar kaya raya. Ia memiliki beberapa kapal haji yang dipergunakan untuk perjalanan menuju Tanah Suci.

Setelah belajar Al-Qur’an dengan ayah­nya, pada tahun 1312 H/1895 M, ketika Syaikh Abdul Malik sudah meng­injak usia dewasa, ayahnya mengirim­nya untuk mendalami ilmu agama di Makkah.
Di Makkah, ia mempelajari berbagai disiplin ilmu agama, di antaranya ilmu Al-Qur’an, tafsir, ulumul Qur’an, hadits, fiqih, tasawuf, dan lain-lain. Asy-Syaikh belajar di Tanah Suci kurang lebih lima belas tahun.

Syaikh Muhammad Abdul Malik bin Muhammad Ilyas menikahi tiga orang istri, dua di antaranya dikaruniai keturun­an. Istri pertamanya adalah Nyai Hajjah Warsiti binti Abu Bakar, yang lebih dikenal dengan sebutan “Mbah Johar”. Ia se­orang wanita terpandang, putri gurunya, Kiai Abu Bakar bin H. Yahya Ke­lewedi Ngasinan, Kebasen. Istri per­tama ini ke­mudian dicerai setelah di­karuniai seorang anak lelaki bernama Ahmad Busyairi (wafat tahun 1953, pada usia sekitar 30 tahun).

Menolak Bencana 
Dalam ilmu Al-Qur’an, khususnya ilmu tafsir dan ulumul Qur’an, ia berguru kepada Sayyid Umar Syatha’ dan Sayyid Ahmad Syatha’ (putra penulis kitab I’anatuth Thalibin hasyiyah Fathul Mu’in). Dalam ilmu hadits, ia berguru kepada Sayyid Tha bin Yahya Al-Maghribi (ulama Hadhra­maut yang tinggal di Makkah), Sayyid Alwi bin Shalih bin Aqil Bin Yahya, Sayyid Muhsin Al-Musawa, Syaikh Mu­ham­­mad Mahfuzh bin Abdullah At-Tirmasi. Dalam bidang ilmu syari’ah dan Thariqah Alawiyah, ia berguru kepada Habib Ahmad Fad’aq, Habib Aththas Abu Bakar Al-Attas, Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi (Surabaya), Habib Abdul­lah bin Muhsin Al-Attas (Bogor), dan Kiai Sholeh Darat (Semarang).

Sementara itu, guru-gurunya di Ma­di­nah adalah Sayyid Ahmad bin Muham­mad Amin Ridhwan, Sayyid Abbas bin Mu­hammad Amin Ridhwan, Sayyid Abbas Al-Maliki Al-Hasani (kakek Sayyid Mu­hammad bin Alwi Al-Maliki Al-Ha­sani), Sayyid Ahmad An-Nahrawi Al-Makki, dan Sayyid Ali Ridha.

Setelah sekian tahun menimba ilmu di Tanah Suci, sekitar tahun 1327 H/1909 M Syaikh Abdul Malik pulang ke kam­pung halaman untuk berkhidmat ke­pada kedua orangtuanya, yang saat itu sudah sepuh.
Pada tahun 1333 H/1915 M, sang ayah, Syaikh Muhammad Ilyas, ber­pulang ke rahmatullah.
Setelah ayahandanya wafat, Syaikh Abdul Malik mengembara ke ber­bagai daerah di Pulau Jawa guna me­nambah wawasan dan pengetahuan de­ngan berjalan kaki. Ia pulang ke rumah tepat pada hari ke-100 dari hari wafat sang ayah.

Sepulang dari pengembaraan, Asy-Syaikh tidak tinggal lagi di Sokaraja, tetapi menetap di Kedung Paruk, ber­sama ibun­danya, Nyai Zainab.Sebagai pembimbing dan syaikh, ia se­ring sekali membawa jama’ah haji Indo­nesia asal Banyumas. Bekerja sama de­ngan Syaikh Mathar Makkah, aktivi­tas itu dilakukan dalam rentang waktu yang cukup lama.

Selama menetap di Makkah, ia me­manfaatkan waktu untuk memperdalam lagi ilmu-ilmu agama dengan para ulama dan masyayikh yang ada di sana.Berkat keluasan dan kedalaman ilmu­nya, Syaikh Abdul Malik pernah memper­oleh dua anugerah, yakni diangkat men­jadi wakil mufti Madzab Syafi’i di Makkah dan diberi kesempatan untuk mengajar. Pemerintah Saudi sen­diri sempat mem­beri­kan hadiah berupa sebuah rumah ting­gal di sekitar Masjidil Haram, tepatnya di dekat Jabal Qubes. Anugerah ini di­berikan oleh pemerintah Saudi hanya ke­pada ulama yang telah memperoleh gelar Al-‘Allamah.

Syaikh Ma’shum (Lasem, Rem­bang), ketika berkunjung ke Purwokerto, sering kali menyempatkan diri singgah di rumah Syaikh Abdul Malik dan mengaji kitab Ibnu Aqil Syarah Alfiyah Ibnu Malik secara tabarrukan kepada­nya. Demikian pula dengan Mbah Dim­yathi (Comal, Pe­malang), K.H. Khalil (Si­rampog, Brebes), K.H. Anshori (Lingga­pura, Brebes), K.H. Nuh (Pageraji, Ba­nyumas), dan kiai-kiai yang hafal Al-Qur’an, kerap sekali bela­jar ilmu Al-Qur’an kepada Syaikh Abdul Malik.

Murid-murid lain Syaikh Abdul Malik di antaranya K.H. Abdul Qadir, Kiai Sa’id, K.H. Muhammad Ilyas Noor (mursyid Thariqah An-Naqsabandiyah Al-Khali­diyah), K.H. Sahlan (Pekalongan), Drs. Ali Abu Bakar Bashalah (Yogyakarta), K.H. Hisyam Zaini (Jakarta), Habib Mu­hammad Luthfi bin Ali Bin Yahya (Peka­longan), K.H. Ma’shum (Purwokerto).

Diungkapkan oleh Habib Luthfi Bin Yahya, yang juga muridnya, “Karya-karya Al-Allamah Syaikh Abdul Malik adalah karya-karya yang dapat berjalan, yakni murid-murid beliau, baik dari kalangan kiai, ulama, maupun shalihin.”

Amalan yang ia wariskan sampai se­karang masih dibaca para pengikut thari­qahnya, yaitu Al-Miftah al-maqashid li-ahli at-tauhid fi ash-shalah ‘ala babillah al-hamid al-majid Sayyidina Muhammad al-fatih li-jami’i asy-syada’id.

Shalawat itu, yang ia dapat di Madi­nah, langsung diijazahkan oleh Sayyid Ahmad bin Muhammad Ridhwan Al-Ma­dani, ini memiliki manfaat yang sangat ba­nyak. Di antaranya, bila dibaca, pahala­nya sama seperti membaca kitab Dala’il al-Khairat seratus sepuluh kali. Juga, dapat digunakan untuk menolak bencana dan dijauhkan dari siksa neraka. Wallahu ‘alam bishshawab.

Melawan Penjajah
Namanya boleh saja tidak tercatat dalam deretan pahlawan nasional. Namun, sejarah tetap mengenang sepak terjang tokoh yang memiliki nama asli Muhammad Ash'ad bin Muhammad Ilyas itu dalam perlawanan mengusir penjajah Belanda. Semangat perjuangan itu ia gelorakan melalui majelis-majelis dakwah dan ilmu yang ia asuh.

Aktivitasnya itu terbukti mampu membuat Belanda geram. Mereka khawatir, aksinya ini dapat menyulut api perlawanan terhadap penjajahan Belanda. Para penjajah itu tak tinggal diam. Syekh Abdul Malik masuk dalam daftar pencarian orang.

Kabar tersebut tak lantas membuatnya terdiam dan ketakutan. Mufti kelahiran Kedung Paruk, Purwokerto, Jumat, 3 Rajab 1294 H/1881 M ini justru bergabung bersama laskar-laskar rakyat untuk berperang sebagaimana leluhurnya, Pangeran Diponegoro, yang berbaur bersama rakyat untuk menentang penjajahan Belanda.

Dengan kalimat tauhid, ia senantiasa menyuntikkan semangat perjuangan terhadap para gerilyawan di perbukitan Gunung Slamet. Perlawanan terhadap tiran dan kebatilannya tetap berlanjut. Setelah Indone sia merdeka, pada masa Gestapu, Syekh Abdul Malik juga sempat ditahan oleh PKI bersama sejumlah karibnya, di antaranya Habib Hasyim al-Quthban, di Yogyakarta, saat di perjalanan menuju Bumiayu, Brebes.

Selama berada dalam tahanan ini, Habib Hasyim al-Quthban terguncang dan akhirnya meninggal, sedangkan Syekh Abdul Malik masih hidup dan akhirnya dibebaskan. Keberanian Syekh Abdul Malik melawan penjajah ini diwarisi dari keluarganya.

sumber : http://www.republika.co.id/berita/koran/islam-digest-koran/15/11/22/ny7wkl1-syekh-abdul-malik-pejuang-kemerdekaan-yang-religius

Tiga Pesan 
Pada hari Kamis malam Jum’at, 21 Jumadil Akhir 1400 H, yang bertepatan dengan 17 April 1980 M, sekitar pukul 18.30 WIB, Syaikh Abdul Malik meminta izin kepada istrinya untuk melakukan sha­lat Isya’ dan masuk ke dalam kamar khal­watnya.Tiga puluh menit kemudian, salah se­orang cucunya mengetuk kamar tersebut, namun tidak ada jawaban.

Setelah pintu dibuka, rupanya sang mursyid telah berpulang menghadap Ilahi, dengan posisi kepala di utara dan kaki di selatan.Jenazahnya dimakamkan keesokan harinya lepas shalat Ashar, di belakang Masjid Baha’ul Haq wa Dhiya’uddin, Kedung Paruk, Purwokerto.Sebelum meninggal, ia menitipkan tiga pesan untuk kaum muslimin:

Pertama, jangan meninggalkan sha­lat. Tegakkan shalat, sebagaimana telah dicontohkan Rasululah SAW. Lakukan shalat fardhu pada waktunya secara berjama’ah. Perbanyak shalat sunnah, serta ajarkan kepada para generasi penerus sedini mungkin.
Kedua, jangan tinggalkan membaca Al-Qur’an. Baca dan pelajari setiap hari, serta ajarkan sendiri sedini mungkin kepada anak-anak. Sebarkan Al-Qur’an, di mana pun berada. Jadikan sebagai pedoman hidup, dan lantunkan dengan suara merdu. Hormati orang-orang yang hafal Al-Qur’an dan qari’-qari’ah, serta muliakan tempat-tempat pelestariannya.
Ketiga, jangan tinggalkan membaca shalawat. Baca dan amalkan setiap hari. Contoh dan teladani kehidupan Rasul­ullah SAW, serta tegakkanlah sunnah-sunnahnya. Sebarkan bacaan shalawat Rasulullah, selamatkan dan sebarluas­kan ajarannya.


Morena Cindo

sumber : http://fadhilaizki.blogspot.co.id/2014/11/syaikh-muhammad-abdul-malik-bin-ilyas.html

GP Ansor dan Satkoryon Banser PAC Kembaran Menyelenggarakan DTD Ansor/Banser

Belum lama ini kita disuguhkan satu peristiwa yang menghenyakkan bangsa Indonesia. Tanggal 14 Januari 2016, belum satu bulan terlewati dari tahun baru, Indonesia dikejutkan dengan serangan bom di hotel Sarinah bahkan sempat terjadi baku tembak antara pihak kepolisian dengan para teroris. Kejadian ini menjadi hal yang perlu di garis bawahi sebagai tanda bahwa ancaman terorisme yang mengatasnamakan agama semakin meningkat. Maka, perlu adanya kerja sama dari berbagai lapisan masyarakat baik pihak sipil, kepolisian, TNI maupun yang duduk diatas tahta DPR / MPR dan pemerintahan untuk bersatu padu untuk menangkal adanya serangan terorisme.



Salah satu bentuk kegiatan yang bisa dijadikan langkah penguatan bangsa dari serangan teroris maupun menngkal radikalisme filosofi sehingga mengarah kepada kekerasan bahkan pembunuhan adalah dengan mengkader pemuda, khususnya pemuda NU untuk  lebih reaktif dan siap untuk menjaga keamanan bangsa serta mengawal NKRI agar tetap berdiri dengan aqidah ahlu sunah wal jama'ah. Untuk itulah, GP ansor PAC Kembaran yang berkoordinasi dengan GP Ansor PC Kabupaten Banyumas berencana mengadakan Pendidikan dan Pelatihan Terpadu Dasar yang mana akan dilaksanakan pada hari Jum'at hingga hari minggu atau dari tanggal 29 - 31 Januari 2016.


Kegiatan DTD yang rencananya akan dilaksankan di Pondok Pesantren Mamba'ul Ushulil Hikmah Bakung desa Linggasari ini, diharapapkan dapat menjadi salah satu bentuk pengkaderan pemuda Indonesia khususnya pemuda NU di Kabupaten Banyumas agar lebih tanggap dan siap untuk berjuang di jalan Allah dengan haluan Ahlu Sunnah Wal Jamaah serta menjaga NKRI dari serangan baik dari luar maupun dalam negeri.

Menurut keterangan yang didapat dari ketua panitia yang juga merupakan Ketua PAC GP Ansor Kecamatan kembaran mengatakan bahwa " Diklat Terpadu Dasar merupakan diklat gabungan antara PKD dengan Diklatsar sehingga baik Ansor dan Banser dapat dikaderisasi agar menjadi pemuda yang siap berjihad memperjuangkan agama, nusa dan bangsa. Saya berharap dengan target peserta 300 orang, pada penutupan acara dapat meluluskan minimal 60 % peserta dari keseluruhan peserta diklat" katanya.


Kaderisasi NU Melalui Majelis Ahad Wage Pimpinan Ustadz Pranto

Pemuda adalah harapan bangsa. Lihat bagaimana aksi  pemuda dapat meruntuhkan rezim orde baru yang telah berkuasa selama 32 tahun.. Lihat pula bagaimana semangat bung tomo mengobarkan perang 10 November atas prakarsa fatwa resolusi jihad atau jangan lupakan sejarah ala bung Karno yang telah membuktikan bahwa negara ini tidak akan merdeka tanpa adanya peran pemuda - pemuda NU.


Peran vital pemuda memang tidak diragukan lagi namun sayangnya perhatian pada pemuda masih minim ditengah masyarakat Indonesia yang terbuai dengan sikap meterialisme dan hedonisme. Paradigma pemuda kemudian mulai berubah mengarah kepada kesenangan sesaat semata, dulu pemuda bahu membahu memperjuangkan kemerdekaan bangsa dengan pekikan takbir namun kini pemuda lebih memilih berjoged di tengah konser, menenggak miras atau memikirkan bagaimana terlihat gaul. Masih sangat sedikit pemuda yang faham makna nasionalisme sejati sehingga jangan heran ketika pemuda tidak terlalu perhatian kepada kemajun bangsa.

Hal ini begitu diperhatikan oleh Ansor Kembaran yang berusaha menanamkan semangat perjuangan ala Nahdliyin melalui berbagai kegiatan dan dimulai  di usia sedini mungkin. Contoh kegiatan yang  bertujuan untuk memebntuk kader aswaja yang telah berjalan adalah majelis Ahad Wage yang diprakarsai oleh Ustadz Muhammad Fahri Hafidz yang juga merupakan mantan Ketua Ansor Ranting Purwodadi dan kini menjabat pula sebagai Koordinator Bidang Teknnologi dan Kajian Strategis PAC Kembaran. 

Majelis Ahad Wage merupakan kegiatan bersholawat bersama dari beberapa desa di Kecamatan Kembaran yang merupakan perwakilan dari TPQ dan Pondok Pesantren di sekitar Kembaran. Niat baik mengadakan majelis ahad wage tersebut langsung didukung oleh sang pelatih hadroh Al Mukarom Arief Supranto yang merupakan mantan Ketua Banser Satkoryon Kembaran. Bapak dua anak ini kini menjabat sebagai Dewan Kesenian Ansor Kembaran. 

Beliau adalah sosok utama dibalik keberhasilan terselenggaranya majelis ahad wage. Jamaah hadroh yang ikut dalam majelis tersebut merupakan murid - murid beliau. Semangatnya dalam menghidupkan gema sholawat di desa Kembaran sangat luar biasa sehingga kemudian terbentuk lah grup - grup hadroh di kecamatan Kembaran. Terhitung ada beberapa grup di Kecamatan kembaran bahkan merambah di kecamatan Sumbang dan Sokaraja. berikut ini adalah grup - grup hadroh asuhannya :

1. Grup hadroh Khumairo dari Desa Karang Sari Pimpinan Ustadz Syarifudin
2. Grup Hadroh TPQ Sulamut Taufik dari Grumbul Dukuh Mekar Karang Tengah pimpinan Ustad Masroh
3. Grup hadroh Ponpes Sabilul Hidayah Karangtengah pimpinan Kyai Ali Rakhmat
4. Majelis Sholawat dan Ratibul Athos Ahbabur Rasul pimpinan Ustadz Amri latif
5. Grup hadroh Jurig Pliken pimpinan Ustadz Badri
6. Grup Hadroh Pliken Pondok Pesantren Pimpinan Romo Kyai Jamil 
7. Grup hadroh Remaja Masjid AL Abror dukuh Waluh Pimpinan Ustadz Sudirmanto
8. Grup hadroh Remaja Masjid Bundar NU pimpinan ustads Deden Dukuh Waluh
9. Grup hadroh Al Hidayah Pliken Pimpinan Ustadz Ali 
10. Grup hadroh dari Kaliori Kecamatan Kalibagor
11. Grup hadroh dari Banteran Sumbang,

serta grup hadroh lain yang tidak bisa dicatat satu persatu. Kesemua grup di atas merupakan hasil kerja kelas Ustadz Pranto. Tanpa beliau mejelis ahad wage tidak akan terlaksana. 

Kegiatan Ahad Wage dirintis dan dimulai di desa Purwodadi serta berlokasi di Masjid Baiturrohim Purwodadi dan dilanjutkan setiap malam ahad wage. Adapun tempat di gilir di setia grup hadroh. Kegiatan ini juga dihadiri oleh para ustadz di kecamatan Kembaran. 

Tadi malam, majelis Ahad Wage bertempat  di Masjid Bundar Dukuh Waluh dihadiri oleh Ketua Ansor PAC kembaran serta diamankan oleh Banser Kembaran. Acara tadi malam juga di isi tausiah oleh Kyai Zain Rahmatulloh pimpinan Majelis Attaisir Sambeng Kulon yang juga menjabat sebagai Ketua Ansor Kecamatan Kembaran. Kegiatan ini merupakan bentuk sinergitas antara para ustadz serta PAC kembaran yang semoga dapat diteruskan secara istiqomah sebagai upaya menghidupkan sunah - sunah nabi dalam bentuk bersholawat dan membaca maulid Nabi. 

Terkhusus untuk Ustadz Pranto mari kita doakan semoga bisa terus berdakwah melalui hadroh dan sholawat serta diberi kekuatan dan kemudahan dalam menghadapi segala kesulitan.





Data Statistik Penyebaran Paham Di Internet : Catatan Blogger Aswaja

Ansor Kembaran ~ Perkembangan teknologi informasi semakin berkembang dengan pesat menyusul banyaknya penemuan - penemuan baru di dunia TI. Mereka yang paham betul dunia teknologi informasi, akan sadar betul betapa besar peluang yang dapat dimanfaatkan baik untuk dunia bisnis dalam bentuk Intetnet Marketing, maupun penyebaran informasi atau penanaman doktrin suatu paham tertentu. Sebagai  bukti  nyata, dapat kita lihat realita yang terjadi masa kini, betapa peran ulama dan ustadz mulai tergeser oleh mesin pencari bernama Google. 


Dari data Pusat Kajian Komunikasi (PUSKAKOM) UImelakukan rilis pers tentang hasil survey profil pengguna internet di Indonesia. Hingga tulisan ini ditulis, hasil survey hasil kerja sama PUSKAKOM dengan APJII tersebut merupakan sumber informasi tentang data pengguna internet di Indonesia terbaru saat ini. Anda bisa mendownload hasil survey tersebut di website PUSKAKOM UI. idKeyword telah melihat hasil survey tersebut dan mendapatkan informasi menarik di dalamnya. Dan ini lah beberapa hal menarik tentang pengguna internet di Indonesia yang kami temukan.

Jumlah Pengguna Internet di Indonesia Sudah mencapai 88,1 Juta

Hal menarik pertama yang kita temukan adalah sebuah fakta bahwa pengguna internet di Indonesia sudah mencapai angkat 88,1 Juta. Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang ada 252,4 Juta, maka dapat dikatakan bahwa penetrasi pengguna internet di negara ini mencapai 34,9%. Angka tersebut meningkat cukup banyak bila dibandingkan dengan tahun 2013 dimana penetrasi internet baru mencapai 28,6%.
Wilayah Jawa dan Bali menjadi wilayah yang memiliki pengguna internet terbanyak di Indonesia dengan 52 Juta. Disusul dengan Sumatra yang berjumlah 18,6 Juta dan Sulawasei yang memiliki 7,3 Juta pengguna internet. Wilayah Nusa Tenggara, Papua, dan Maluku memiliki jumlah 5,9 Juta. Dan terakhir, wilayah Kalimantan dengan jumlah pengguna internet sebanyak 4,2 Juta. Anda bisa melihatnya pada gambar di atas. Jawa Barat menjadi provinsi dengan pengguna internet terbanyak, yaitu sebanyak 16,4 Juta.( sumber :http://blog.idkeyword.com/profil-pengguna-internet-di-indonesia-tahun-2015/ )
Dengan jumlah pengguna internet yang sedemikian besarnya, terlebih negara Indonesia memiliki mayoritas penduduk beragama muslim. Tak heran, dunia maya, menjadi salah satu jalan yang paling mudah, aman dan sederhana dalam menyebarkan paham tertentu. 

Lalu bagaimana potensi penyebaran paham di dunia internet. Mari kita kaji data data pencarian google menggunakan keyword planner. Google Keyword Planner merupakan tools milik Google yang berfungsi untuk mengetahui berapa jumlah pencarian suatu kata menggunakan mesin pencari Google. 

Kita ambil contoh untuk kata kunci " Pengertian Bid'ah"

Berikut ini data pengguna internet yang mencari kata " pengertian bid'ah" dengan model pencarian "exact match".


Data diatas menunjukan bahwa setiap bulannya ada sekitar 2000 pengguna internet yang mengetikan frasa "pengertian bid'ah" di kotak pencarian Google. Berarti dalam setahun ada sekitar 24.000 pengguna yang ingin mengetahui maksud dari  makna bid'ah. Kemudian, mari kita lihat hasil pencarian Google dengan keyword "Pengertian Bid'ah". Berikut ini screenshot nya.




Silahkan anda cek sendiri - sendiri. Dari belasan situs, ada berapa situs yang berhaluan aswaja ?

Sesuai dengan ilmu search engine, seseorang ketika mencari informasi di pencarian google, akan melihat di halaman satu atau dua. Kita analogikan ketika anda bertanya tentang suatu hal serta menanyakannya kepada 15 orang ternyata, 12 orang menjawab A dan 3 orang menjawab B. mana yang akan anda percayai?

Dari pemaparan diatas, mungkin menjadi salah satu keprihatinan kita bahwa kader - kader NU belum terlalu memperhatikan permasalahan ini. Semoga kedepannya, elit - elit NU dapat mengagendakan program pelatihan blog yang sederhana guna membentengi penyebaran aliran aliran sesat maupun aliran takfiri yang radikal. 

Maka, program di tahun 2016 mendatang, Ansor PAC kembaran memiliki beberapa program di dunia media informasi diantaranya adalah :
1. Pembuatan Buletin Ansor
2. Pembuatan website Ansor.TV yang akan dikhususkan sebagai portal media audio video yang berisi ceramah, debat maupun link streaming TV aswaja. 

Semoga program ini bisa terselenggara di tahun 2016 ini.
sebagai tambahan referensi silahkan baca juga artikel :

Media Sosial dan Radikalisme

Punya blog agama dan ingin mendapat komisi uang? Klik di Sini http://poptm.com/r/87528940

by Cyber Kembaran 

Sejarah Gerakan Pemuda Ansor

Kelahiran Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) diwarnai oleh semangat perjuangan, nasionalisme, pembebasan, dan epos kepahlawanan. GP Ansor terlahir dalam suasana keterpaduan antara kepeloporan pemuda pasca-Sumpah Pemuda, semangat kebangsaan, kerakyatan, dan sekaligus spirit keagamaan. Karenanya, kisah Laskar Hizbullah, Barisan Kepanduan Ansor, dan Banser (Barisan Serbaguna) sebagai bentuk perjuangan Ansor nyaris melegenda. Terutama, saat perjuangan fisik melawan penjajahan dan penumpasan G 30 S/PKI, peran Ansor sangat menonjol.
Ansor dilahirkan dari rahim Nahdlatul Ulama (NU) dari situasi ”konflik” internal dan tuntutan kebutuhan alamiah. Berawal dari perbedaan antara tokoh tradisional dan tokoh modernis yang muncul di tubuh Nahdlatul Wathan, organisasi keagamaan yang bergerak di bidang pendidikan Islam, pembinaan mubaligh, dan pembinaan kader. KH Abdul Wahab Hasbullah, tokoh tradisional dan KH Mas Mansyur yang berhaluan modernis, akhirnya menempuh arus gerakan yang berbeda justru saat tengah tumbuhnya semangat untuk mendirikan organisasi kepemudaan Islam.
Dua tahun setelah perpecahan itu, pada 1924 para pemuda yang mendukung KH Abdul Wahab –yang kemudian menjadi pendiri NU– membentuk wadah dengan nama Syubbanul Wathan (Pemuda Tanah Air). Organisasi inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Gerakan Pemuda Ansor setelah sebelumnya mengalami perubahan nama seperti Persatuan Pemuda NU (PPNU), Pemuda NU (PNU), dan Anshoru Nahdlatul Oelama (ANO).
Nama Ansor ini merupakan saran KH. Abdul Wahab, “ulama besa” sekaligus guru besar kaum muda saat itu, yang diambil dari nama kehormatan yang diberikan Nabi Muhammad SAW kepada penduduk Madinah yang telah berjasa dalam perjuangan membela dan menegakkan agama Allah. Dengan demikian ANO dimaksudkan dapat mengambil hikmah serta tauladan terhadap sikap, perilaku dan semangat perjuangan para sahabat Nabi yang mendapat predikat Ansor tersebut. Gerakan ANO (yang kelak disebut GP Ansor) harus senantiasa mengacu pada nilai-nilai dasar Sahabat Ansor, yakni sebagi penolong, pejuang dan bahkan pelopor dalam menyiarkan, menegakkan dan membentengi ajaran Islam. Inilah komitmen awal yang harus dipegang teguh setiap anggota ANO (GP Ansor).
Meski ANO dinyatakan sebagai bagian dari NU, secara formal organisatoris belum tercantum dalam struktur organisasi NU. Hubungan ANO dengan NU saat itu masih bersifat hubungan pribadi antar tokoh. Baru pada Muktamar NU ke-9 di Banyuwangi, tepatnya pada tanggal 10 Muharram 1353 H atau 24 April 1934, ANO diterima dan disahkan sebagai bagian (departemen) pemuda NU dengan pengurus antara lain: Ketua H.M. Thohir Bakri; Wakil Ketua Abdullah Oebayd; Sekretaris H. Achmad Barawi dan Abdus Salam.
Dalam perkembangannya secara diam-diam khususnya ANO Cabang Malang, mengembangkan organisasi gerakan kepanduan yang disebut Banoe (Barisan Ansor Nahdlatul Oelama) yang kelak disebut BANSER (Barisan Serbaguna). Dalam Kongres II ANO di Malang tahun 1937. Di Kongres ini, Banoe menunjukkan kebolehan pertamakalinya dalam baris berbaris dengan mengenakan seragam dengan Komandan Moh. Syamsul Islam yang juga Ketua ANO Cabang Malang. Sedangkan instruktur umum Banoe Malang adalah Mayor TNI Hamid Rusydi, tokoh yang namaya tetap dikenang dan bahkan diabadikan sebagai sama salah satu jalan di kota Malang.
Salah satu keputusan penting Kongres II ANO di Malang tersebut adalah didirikannya Banoe di tiap cabang ANO. Selain itu, menyempurnakan Anggaran Rumah Tangga ANO terutama yang menyangkut soal Banoe.
Pada masa pendudukan Jepang organisasi-organisasi pemuda diberangus oleh pemerintah kolonial Jepang termasuk ANO. Setelah revolusi fisik (1945 – 1949) usai, tokoh ANO Surabaya, Moh. Chusaini Tiway, melempar mengemukakan ide untuk mengaktifkan kembali ANO. Ide ini mendapat sambutan positif dari KH. Wachid Hasyim, Menteri Agama RIS kala itu, maka pada tanggal 14 Desember 1949 lahir kesepakatan membangun kembali ANO dengan nama baru Gerakan Pemuda Ansor, disingkat Pemuda Ansor (kini lebih pupuler disingkat GP Ansor).
GP Ansor hingga saat ini telah berkembang sedemikan rupa menjadi organisasi kemasyarakatan pemuda di Indonesia yang memiliki watak kepemudaan, kerakyatan, keislaman dan kebangsaan. GP Ansor hingga saat ini telah berkembang memiliki 433 Cabang (Tingkat Kabupaten/Kota) di bawah koordinasi 32 Pengurus Wilayah (Tingkat Provinsi) hingga ke tingkat desa. Ditambah dengan kemampuannya mengelola keanggotaan khusus BANSER (Barisan Ansor Serbaguna) yang memiliki kualitas dan kekuatan tersendiri di tengah masyarakat.
Di sepanjang sejarah perjalanan bangsa, dengan kemampuan dan kekuatan tersebut GP Ansor memiliki peran strategis dan signifikan dalam perkembangan masyarakat Indonesia. GP Ansor mampu mempertahankan eksistensi dirinya, mampu mendorong percepatan mobilitas sosial, politik dan kebudayaan bagi anggotanya, serta mampu menunjukkan kualitas peran maupun kualitas keanggotaannya. GP Ansor tetap eksis dalam setiap episode sejarah perjalan bangsa dan tetap menempati posisi dan peran yang stategis dalm setiap pergantian kepemimpinan nasional.
Buku Panduan Ramadhan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Sudutkan Tarawih 20 Rakaat

Buku Panduan Ramadhan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Sudutkan Tarawih 20 Rakaat

buku panduan ramadhan 1433 H, download buku panduan ramadhan 1433 HBuku Panduan Ramadhan,  yang sering kita jumpai pada anak-anak SD, SMP, SMU dan sederajatnya merupakan buku rutinan yang ada di kalangan pelajar kita. Namun pada buku panduan ramadhan yang satu ini berlainan, Nur Muhammad meminta kepada Kementrian Agama (Kemenag) Kabupaten Sragen untuk menarik dan merevisi buku panduan kegiatan bulan Ramadhan (KBR) 1433 Hijriah yang antara lain berisi muatan yang menyudutkan amalan shalat tarawih 20 rakaat. Buku yang diterbitkan Wijaya Ilmu itu dibagikan kepada siswa-siswi Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, itu dinilai berpotensi timbulkan konflik. GP Ansor Sragen, pada dasarnya menghormati perbedaan, tetapi buku panduan Ramadhan itu diterbitkan oleh institusi pemerintah yang seharusnya tidak menyudutkan salah satu golongan . ”Kalau buku itu diterbitkan semisal oleh Muhammadiyah, malah GP Ansor menghormati keyakinan mereka,” tegasnya kepada NU Online Selasa (24/7).
Orang tua siswa MI dibuat resah dan khawatir dengan isi buku panduan Ramadhan, buku itu, kata mereka berpotensi timbulkan konflik dan menyinggung keyakinan sebagian umat Islam.  “Salah satu materi di buku KBR, halaman 11 point H menjabarkan ibadah-ibadah sunah yang dianjurkan untuk dilaksanakan selama bulan Ramadhan. Pada point H no 8, tepatnya di halam 13, terdapat tulisan yang kurang lebih menyatakan hadits tentang Shalat Tarawih sebanyak 20 rakaat ditutup witir 3 rakaat, bersumber dari hadits dhaif atau lemah,” kata orang tua siswa MI Tangen, M Anas (40). Dikatakan Anas, tulisan itu dimuat di buku yang dibagikan kepada seluruh siswa MI di Kabupaten Sragen. Buku panduan Ramadhan, disusun oleh seorang pengawas PAI SD/MI, TK/RA Kabupaten Sragen. Anas menilai, tulisan itu tidak layak ditulis dan dibagikan kepada siswa, karena ditakutkan menyinggung keyakinan sebagian umat Islam dan bisa timbulkan konflik. “Saya kaget kali pertama membaca buku milik anak saya itu. Saya tidak mempermasalahkan benar masalah tulisan itu.Saya lebih berfikir tentang keyakinan masing-masing umat Islam. Bagaimana kalimat itu lolos begitu saja dari pantauan Kementrian Agama Sragen? Itu bisa membuat kisruh kalau tidak segera ditarik dan diralat,” katanya. Nurhayat (32) orang tua siswa juga menyayangkan tulisan itu lolos dari perhatian pemerintah. Kurang bijak apabila tulisan semacam itu beredar dikalangan siswa. Kementrian Agama Sragen, harus mengambil tindakan tegas,” usul Nurhayat. Baik Nurhayat maupun Anas, keduanya sudah melaporkan kepada kepala Madrasah Ibtidaiyah masing-masing. 
Mereka berharap ada tindakan tegas terkait kejadian itu. Menanggapi persoalan buku panduan Ramadhan, Irwan Junaidi, Kepala Seksi Madrasah dan Pendidikan Agama Islam pada sekolah umum (Kasi Mapeda) Kabupaten Sragen, menjelaskan sudah menerima laporan dari beberapa kepala sekolah MI terkait isi buku yang dinilai bisa menyinggung sebagian umat Islam. ”Kami sudah menarik buku panduan Ramadhan itu dari peredaran. Kami akan berkoordinasi dengan kepala MI di Kabupaten Sragen untuk mempercepat proses. Kami minta kepada semua orang tua atau wali murid jangan terprovokasi soal itu. Buku akan ditarik dan direvisi. Setelah itu akan dibagikan kembali dan tidak akan dipungut biaya sepeserpun,” ungkapnya. Ia berjanji secepatnya akan menyelesaikan persoalan buku panduan Ramadhan, namun Irwan juga belum mengetahui berapa eksemplar buku KBR yang sudah dibagikan kepada siswa MI di Sragen. Sementara itu, penulis buku panduan kegiatan Ramadhan untuk siswa MI di Sragen, Jawa Tengah, H Shulkan mengaku bertanggungjawab terhadap revisi isi buku yang dinilai meresahkan umat Islam. Ia tak menyangka isi buku di halaman 13 point H nomor 8 yang menyudutkan praktik ibadah shalat tarawih 20 rakaat. Menurut Shulkan, hal itu merupakan kesalahan teknis, karena seharusnya buku panduan itu melewati proses editing ditingkat pengawas atau Kasi Madrasah dan pendidikan agama Islam pada sekolah umum (Mapenda) Sragen. Tapi, apa yang terjadi, buku panduan itu langsung dicetak lantas diedarkan ke siswa MI se Kabupaten Sragen. ”Saya bertanggungjawab menyelesaikan persoalan ini. Buku itu sebetulnya memang belum layak cetak,” katanya. Selain persoalan hadits, kekeliruan juga terdapat pada tulisan huruf arab yang kurang sempurna. ” Masih ada beberapa kesalahan pada penulisan huruf arab yang ditulis dalam buku itu. Saya tahu itu sangat menyinggung umat Islam,” katanya di Sragen, Selasa (24/7). 
Sementara itu Kepala Sekolah MI Maarif Tanggan, Agus Wikukuh, sudah mendapat perintah dari Kasi Mapeda Sragen Irwan Junaidi, untuk menarik seluruh buku MI masing-masing sekolahan. Dikatakan Agus, di MI Tanggan, akanmenarik sebanyak 85 buku panduan. Buku seharga Rp 2.500,- per buku itu selanjutnya akan diserahkan ke kelompok Kepala Sekolah Madrasah Sukodono.  Krisna, Sekretaris GP Ansor Sragen, GP Ansor siap mendatangkan massa ke kantor Kementrian Agama (Kemenag) Sragen, apabila lembaga pemerintah itu tidak segera menarik buku panduan ramadhan. ”Saya mengecek ke beberapa sekolahan seperti di MI Desa Patihan, Sidoharjo, ternyata belum ada aktivitas penarikan buku. Guru setempat juga tidak mengetahui ada perintah penarikan buku panduan,” kata Krisna. Apabila dalam waktu dekat ini buku panduan itu tidak ditarik, maka GP Ansor kata Krisna, akan mendatangi Kemenag dan menuntut kepada pihak penerbit Wijaya Ilmu untuk minta maaf, lantaran ini ada indikasi kesengajaan. Kepala Kemenag Kabupaten Sragen, Muh Saidun, menjelaskan sudah bertemu dengan penulis buku panduan, dan buku itu akan ditarik dan direvisi. Sedangkan Agus, penerbit Wijaya Ilmu, siap melakukan cetak ulang sebanyak 3.000 eksemplar buku panduan Ramadhan. Proses mencetak ulang akan dilakukan setelah buku-buku tersebut selesai dikumpulkan dari masing-masing MI di Kabupaten Sragen. Terkait dengan hebohnya buku panduan Ramadhan bagi siwa MI, ketua Komisi IV DPRD Sragen, Suharjo menilai, ada indikasi kesengajaan dari pejabat Kemenag Sragen dalam mencantumkan kata-kata yang menyinggung kelompok tertentu. Komisi III berkeinginan menganggil Kepala Kemenag Sragen, untuk menjelaskan kepada wakil rakyat. ”Perbedaan keyakinan itu mestinya disikapi secara arif dan bijaksana, jangan sampai permasalahan perbedaan jadi masalah yang berpotensi mendiskriditkan kelompok tertentu. Kepala Kemenag harus bertanggungjawab,” tegas Suharjo, Buku Panduan Ramadhan.

Download Kajian Kitab Minhajul Abidin Oleh KH Imron Jamil

Kitab Minhajul Abidin merupakan kitab yang ditulis oleh Imam Ghozali menjelang wafatnya beliau. Di dalam kitab ini terdapat berbagai petuah tentang bagaimana menjadi hamba yang dekat dengan Allah. Secara umum, kitab ini lebih ringkas dan lebih fokus dibandingkan dengan kitab monumental Imam Ghozali yaitu Ihya Ulummudin.
Download Kajian Kitab Minhajul Abidin Oleh KH

Kitab ini sendiri menjelaskan tengan tingkah tasawuf agar lebih mengerti tentang tahapan - tahapan bagi mereka yang sedang mendaki menuju Allah. Imam Al Ghozali kemudian menggunakan istilah 'aqobah untuk menjelaskan tanjakan  tanjakan pendaki jalan Allah SWT. Terdapat tujuh 'aqobah di dalam kitab ini diantaranya adalah :
1.      ‘Aqabah ‘Ilmu  (عقبة العلم)                    
2.      ‘Aqabah Taubat   (عقبة التوبة)                   
3.      ‘Aqabah ‘Awaiq (عقبة العواعق)                 
4.      ‘Aqabah ‘Iwarad (عقبة العوارض)                
5.      ‘Aqabah Bawa’is (عقبة البواعث)                 
6.      ‘Aqabah Qawadih  (عقبة القواده)                 
7.      ‘Aqabah Hamdu Wa Syukur(عقبة الحمد و الشكر) 

Di dalam artikel ini telah saya sertakan link download mp3 kajian kitab Minhajul Abidin oleh KH Imron Jalil. Untuk mendownload terjemahan kitabnya silahkan anda klik tautan download dibawah ini :

DOWNLOAD





KH Ma'ruf Amin, Rais Aam Baru PBNU


KH Ma’ruf Amin menjadi salah satu anggota ahlul halli wal aqdi (Ahwa) pada Muktamar Ke-33 NU yang kemudian ditetapkan menjadi Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Rais Aam merupakan pimpinan tertinggi organisasi Islam terbesar di Asia Tenggara ini. 


Kiai Ma’ruf lahir di Tangerang, 11 Maret 1943. Cicit Syekh Nawawi Banten ini mengawali pendidikannya dari Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Ma’ruf muda kemudian melanjutkan pendidikannya di Universitas Ibnu Khaldun, Bogor.

Di NU ia aktif dalam forum pembahasan hukum atau bahtsul masail. Ia adalah salah perumus Sistem Pengambilan Keputusan Hukum Islam di Lingkugan NU pada Munas Alim Ulama NU di Bandar Lampung 1992.

Ia tercatat sebagai STAI Shalahuddin Al-Ayyubi Jakarta dan memperoleh doktor honoris causa dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Sosoknya kemudian lebih dikenal publik saat menjadi Ketua MUI Pusat dan anggota Dewan Pertimbangan Presiden. Ia juga pernah menjadi anggota Koordinator Dakwah (KODI) DKI Jakarta dan anggota BAZIS DKI Jakarta. Serta pernah menjadi Rais Syuriyah PBNU. Pada kepengurusan PBNU periode 2010-2015, ia mengemban amanah sebagai mustasyar PBNU.

Pengasuh Pesantren "An-Nawawi" Tanara Banten ini dikenal sebagai "singa" di Bathsul Masail. Kedalaman ilmunya membuat banyak yang tak berkutik ketika beliau sudah menyampaikan pandangannya, seperti yang terjadi di komisi bathsul masail maudluiyyah di Muktamar, kemarin. 

Pasca ditetapkan menjadi Rais Aam, Kiai Ma'ruf berpidato mengajak semua pengurus NU dari ranting sampai pusat untuk bersatu membangun umat. Ia meminta NU mengerjakan program-program yang konkret untuk kemajuan dan kebesaran umat Islam. (Ahmad Naufa)
Keutamaan Shalat Fardlu dan Akibat Meninggalkannya

Keutamaan Shalat Fardlu dan Akibat Meninggalkannya


shalat-anak1Seperti kita telah ketahui bersama, ummat Islam terbesar di dunia setiap tanggal 27 Rajab  memperingati Isra' wal mi'raj. Inti dari peristiwa Isra' mi'raj adalah Rasulullah SAW mendapatkan perintah shalat lima waktu..
Allah SWT berfirman : Sesungguhnya shalat itu atas orang-orang mu'minin sebagai kewajiban yang berwaktu. Hai orang-orang yang beriman, janganlah dilalaikan oleh kesibukan terhadap harta dan anak-anakmu untuk mengerjakan dzikrullah (shalat), dan siapa yang berbuat begitu maka merekalah yang rugi.
Ibn  Umar r.a. berkata ;  Rasulullah s.a.w. bersabda : "Pertama yang diwajibkan atas ummatku shalat lima waktu, dan pertama yang terangkat dari amal mereka shalat lima waktu, dan pertama yang akan ditanya dari amal mereka shalat lima waktu, maka siapa yang mengurangi sedikit daripadanya,
maka Allah ta'ala berkata kepada Malaikat :
"Lihatlah apakah kamu dapatkan pada hamba-Ku itu shalat sunnat untuk mencukupi kekurangan-kekurangannya dalam fardhu, dan perhatikan puasa hamba-Ku pada bulan Ramadhan, bila kamu dapatkan ia mengurangi maka lihatlah apakah hamba-Ku telah mengerjakan puasa sunnat yang dapat kamu tambahkan yang kurang-kurang dari puasa Ramadhan, kemudian lihatlah zakat hamba-Ku, maka jika ada kekurangan, maka apakah ada padanya sedekah sunnat yang dapat ditambahkan pada zakat .yang wajib itu, maka semua yang fardhu-fardhu itu diperhitungkan sedemikian, dan itu semata-mata rahmat dan karunia Allah, dan jika masih ada kelebihan dalam amal kebaikannya diletakkan dalam timbangan amalnya, dan dipersilakan masuk surga. Dan bila tidak sesuatu dari itu, maka diperintahkan kepada Malaikat Zabaniyah : Tangkaplah ia dengan tangan dan kakinya kemudian dilemparkannya kedalam neraka"  (H.R. Alhakim)
Jabir r.a. berkata : Nabi s.a.w. bersabda :
"Perumpamaan shalat lima waktu itu bagaikan sungai yang lebar mengalir dimuka pintu salah satu kamu, lalu ia mandi daripadanya tiap hari lima kali. Apakah yang demikian itu masih ada ketinggalan kotorannya." (H.R. Muslim).
Abu Dzar r.a. berkata : Nabi s.a.w. keluar dimusim dingin, sedang daun pohon banyak rontok, maka ia mengambil dua dahan, sedang daunnya rontok maka bersabda : Hai Abu D-zar. Jawabku : Labbaika ya Rasulallah. Lalu bersabda :
"Seorang hamba muslim jika shalat dengan ikhlas karena Allah maka rontok dosa-dosanya sebagaimana rontok daun dari dahan pohon ini. " (H.R. Ahmad).
Ibn Umar r.a. berkata : "Sesungguhnya seorang hamba bila ia berdiri shalat maka diletakkan semua dosa-dosanya diatas kepala dan kedua bahunya, maka tiap-tiap ruku' atau sujud rontok (berjatuhan) dosa-dosanya itu" (H.R. Atthabarani, Albaihaqi).
Usman r.a. berkata : Nabi s.a.w. bersabda : "Tiada seorang muslim yang tiba padanya waktu shalat fardhu lalu ia menyempurnakan wudhu' dan khusyu' serta ruku', sujudnya melainkan shalat itu menjadi penebus dosanya yang telah lalu, selama ia tidak berbuat dosa besar, dan yang demikian itu sepanjang masa." (H.R. Muslim).
Anas r.a. berkata : "Tiada dua Malaikat yang mencatat amal itu, menghadap pada Allah membawa shalat seorang dua kali sembahyang, melainkan Allah berkata pada kedua Malaikat itu; Aku persaksikan pada kamu berdua bahwa Aku telah mengampunkan pada hambaKu dosa-dosa yang terjadi diantara dua kali sembahyang itu. (HR. Albaihaqi).
Dalam kitab Azzawajir susunan Ahmad bin Hajar Alhaitami berkata : Tersebut dalam hadits : Siapa yang menjaga shalat lima waktu  maka Allah akan memulyakannnya dengan lima macam :
1.    Dihindarkan kesempitan hidup.
2.    Dihindarkan siksa kubur.
3.    Diberi kitab amalnya dengan tangan kanannya.
4.    Berjalan diatas shirat bagaikan kilat.
5.    Masuk surga tanpa hisab.
Dan siapa yang meremehkan (meninggalkan) shalat akan dihukum oleh Allah dengan lima belas siksa. Lima di dunia, dan tiga ketika mati, dan tiga di dalam kubur, dan tiga ketika keluar dari kubur.
Adapun yang di dunia ;
1.    Dicabut berkat umurnya.
2.    Dihapus tanda orang salih dari mukanya.
3.   Tiap amal yang dikerjakan tidak diberi pahala oleh Allah.
4.    Do'anya tidak dinaikkan kelangit.
5.   Tidak dapat bagian dari do'a orang-orang sholihin
Adapun hukuman yang terkena padanya ketika mati
1.    Matinya hina.
2.    Mati kelaparan.
3.    Mati haus, dan andaikan diberi air samudera dunia tidak akan puas, dan tetap haus
Adapun hukuman di dalam kubur :
1. Disempitkan kubur sehinuga hancur tulang-tulang rusuknya.
2. Dinyalakan api dalam kubur, maka ia bergelimpang dalam api, siang, malam.
3. Didatangkan padanya ular yang bernama syuja' yang buta matanya dari api (berapi) dan kukunya dari besi tiap kuku panjangnya perjalanan sehari, ia berkata pada si mayit ; " Aku syuja' al'aqra', sedang suaranya bagaikan petir yang menyambar, ia berkata : Allah telah menyuruhku memukul kamu karena meninggalkan shalat subuh hingga terbit matahari, dan memukul kamu karena meninggalkan shalat dhuhur hingga asar, dan memukul kamu karena meninggalkan shalat ashar hingga maghrib, dan memukulmu karena meninggalkan shalat maghrib hingga isya', dan memukulmu karena meninggalkan shalat isya' hingga shubuh, dan tiap ia memukul satu kali terbenamlah orang itu  kedalam tanah tujuh puluh hasta, maka ia selalu tersiksa dalam kubur hingga hari qiyamat.
Adapun hukuman yang menimpa padanya sesudah keluar dari kubur dihari qiyamat :
1.  Diberatkan hisabnya.,
2.  Allah murka padanya,
3.  Masuk dalam neraka.
Di lain riwayat :  Maka ia akan menghadap qiyamat dan dimukanya ada tiga baris tulisan :
1. Hai orang yang mengabaikan hak Allah.
2. Hai orang yang mendapat murka.
3. Allah mengabaikan kamu sebagaimana kamu didunia mengabaikan hak Allah maka hari ini kamu putus dari rahmat Allah..
Diriwayatkan : Bahwa dalam jahannam ada lembah bernama lamlam yang berisi ular-ular, tiap-tiap ular setebal leher onta, panjangnya sejauh perjalanan sebulan, menggigit orang yang meninggalkan sembahyang, maka mendidihnya bisa racunnya dalam badan orang yang digigit selama tujuh puluh tahun kemudian hancur dagingnya.
Diriwayatkan : Bahwa seorang wanita Bani Isra'il datang kepada nabi Musa a.s. dan berkata :
"Ya nabiyallah saya telah berbuat dosa besar, dan kini saya akan tobat kepada Allah, maka do'akan untukku semoga Allah mengampuni dosaku dan menerima tobatku.
Nabi Musa a.s. tanya  : Apakah dosamu ?
Jawabnya : Ya nabiyallah, saya telah berzina hingga mendapat anak dan telah aku bunuh anakku itu.
Nabi Musa a.s. mendengar berita itu, langsung berkata : "Enyahlah engkau dari sini hai pelacur jangan  membakar kami dengan apimu, jangan sampai ada api turun dari langit dan membakar kami karena sialmu" 
Maka keluarlah wanita itu dengan hati yang hancur patah harapan. Maka turunlah Malaikat Jibril a.s. dan berkata :  "Hai Musa, Tuhan berkata,padamu, mengapa kamu menolak orang yang datang untuk bertobat, hai Musa apakah tidak ada orang yang lebih jahat daripadanya."
Nabi Musa tanya pada Jibril : "Siapa yang lebih jahat daripadanya?"
Jawab Jibril : Orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja. 
Rasulullah s.a.w. bersabda : "Siapa yang menjaga shalatnya maka ia akan mendapat nur (cahaya) dan bukti, dan selamat pada hari qiyamat, dan siapa yang teledor terhadap shalatnya, maka tidak mendapat nur penerangan, dan bukti dan tidak selamat, bahkan pada hari qiyamat ia akan berkumpul dengan Qarun, Fir'aun, Haman dan Ubay bin Khalaf. ( H.R. Ahmad, Ibn Hibban).
Jabir r.a. berkata : Nabi s.a.w. bersabda : Yang membedakan Antara seorang dengan kufur hanya shalat, maka siapa meninggalkan shalat ia kafir. (H.R. Muslim. Abu Dawud, Attirmidzi, Ibn Majah, Annasa'i)
Dalam riwayat Attirmidzi : Antara kufur dengan iman itu hanya so'al meninggalkan shalat (Yang meninggalkan shalat kafir). Dalam riwayat Abu Dawud : Antara seorang hamba dengan kufur, hanya so'al meninggalkan shalat.
Buraidah r.a. berkata ; Nabi s.a.w. bersabda : Ikatan janji antara kami dengan mereka, sembahyang, maka siapa yang meninggalkannya ia kafir. (H.R. Ahmad, Attirmidzi, Annasa'i, Ibn Majah, Ibn Hibban Al Hakim).     
Dan sabda Nabi s.a.w. : Siapa yang meninggalkan shalat dengan sengaja,' maka ia kafir terang-terangan. (H.R. Atthabarani).
(Sumber : Dikutip oleh Tim Sarkub dari kitab Irsyadul 'Ibad )