Showing posts with label Seputar Ansor. Show all posts
Showing posts with label Seputar Ansor. Show all posts

Pengurus Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor (PP-GP Ansor) Masa Khidmat 2015-2020

Add Comment
Setelah melakukan kongres pada tahun 2015 lalu dengan dipilihnya Gus Tutut (Yaqut Cholil Qoumas) sebagai ketua PP GP Anshor 2015 – 2020.  Dan Berikut adalah susunan Pengurus Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor (PP-GP Ansor) Masa Khidmat 2015-2020

DEWAN PENASEHAT:
KETUA : Dr. KH. AS’AD SAID ALI
WAKIL KETUA : Prof. Dr. M. NASIR
WAKIL KETUA : SRI SULTAN HAMENGKUBOWONO X
EKRETARIS : FAHMI AKBAR IDRIS
ANGGOTA : H. SAIFULLAH YUSUF
ENDIN A.J. SOEFIHARA
Prof. Dr. Ir. H. MUHAMMAD NUH, DEA
Drs. A.H. MUJIB ROHMAT
Drs. H. AKHMAD MUQOWAM
HABIB RAHIM ASSEGAF
HABIB HILAL AL AIDID
Drs. IMAM MA’RUF
H. HASAN AMINUDDIN
DIPO NUSANTARA
HAMRA SAMAL
Drs. H. KHAIRUDDIN WAHID
Drs. QOHARI KHOLIL
DEWAN INSTRUKTUR:
KETUA : H. NUSRON WAHID
SEKRETARIS : Dr. H. MUHAMMAD AQIL IRHAM
ANGGOTA : Drs. AHMAD GHOJALI HARAHAP, M.Si
Dr. KH. ABDUL GHOFUR MAIMUN
Dr. H. JURI ARDIANTORO
HARIYANTO OGHI
AS’AD ISMA
SAHRAN RADEN
M.ILYAS
KH. AHMAD NADHIF
HABIB SHOLEH
KH. NAJIB BUCHORI
PENGURUS HARIAN:
KETUA UMUM : H. YAQUT CHOLIL QOUMAS
WAKIL KETUA UMUM : DHOHIR AL FARISI
BENNY RAMDHANI
AAM HAERUL AMRI
KETUA : HASAN BASRI SAGALA
KETUA : ABDUL HARIS MA’MUN
KETUA : SYAIFUL R. DASUKI
KETUA : HENDRIK KURNIAWAN
KETUA : MUJIBURROHMAN
KETUA : ALFA ISNAENI
KETUA : ZAKARIA R. PUATO
KETUA : ENDING SYARIFUDDIN
KETUA : MABRUR
KETUA : FAISAL ATTAMIMI
KETUA : SALEH RAMLI
KETUA : ABDUL HALIK RUMKHEL
KETUA : RUCHMAN BASHORI
KETUA : KH. M. LUTHFI THOMAFI
KETUA : M. AMIN
KETUA : AHMAD SYARIF
KETUA : RIZVI SHIHAB
KETUA : LUKMAN HAKIM
KETUA : RIZQON HALAL SYAH AJI
KETUA : SIDIK SISDIYANTO
KETUA : FAIRUZ AHMAD
KETUA : SUMANTRI SUWARNO
KETUA : FAISAL SAIMIMA
KETUA : ABDUL HAKAM AQSHO
KETUA : KH. SHOLACHUL AAM NOTOBUWONO
KETUA : IDY MUZAYYAD
KETUA : ASEP MULYA HIDAYAT
KETUA : NURUZZAMAN
SEKERTARIS JENDERAL : ADUNG ABDUL RAHMAN
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : CASWIYONO RUSDI CAKRAWANGSA
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : KHAIRUL ANWAR
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : AHMAD RIFQI AL MUBAROK
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : TIMBUL PASARIBU
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : JUWANDA
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : SHOLIHIN
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : AHMAD WARI
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : YUDHISTIRA
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : ULIL ARCHAM
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : MOH. HADIMUDIN
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : ABDUL MUIS
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : AMRAN HB
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : KH. AUNULLAH A’LA HABIB
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : BASRI SALAMA
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : ABDURRAHMAN S. FAUZ
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : MOESAFA
WAKIL SEKR ETARIS JENDERAL : NIZAR RAHMATU
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : JOHAN J. ANWARI
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : BAYU DARUSSALAM
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : ALFAN ASSIROZI
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : FATKHUL MASYKUR
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : MAS’UD SHALEH
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : CHUSNIL MUBARAK
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : MISKIL MINA MUNIR
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : MUHAMMAD IDRIS
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : MUH. MUGHNI
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : ABDUL QODIR AQIL
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : WIHAJI
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : MUHAMMAD AZIZ HAKIM
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : KH. MAHFUDZ CHAMIDZ
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : MUHAMMAD FADILAH
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : HADI MUSA SAID
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : MUHAMMAD NAHDLY
BENDAHARA UMUM : ZAINAL ABIDIN
WAKIL BENDAHARA UMUM : MUHAMMAD RIFAI
WAKIL BENDAHARA UMUM : SUBHAN AKSA
WAKIL BENDAHARA UMUM : HARRY SAPUTRA GANI
WAKIL BENDAHARA UMUM : ARIES YORDIANTO
WAKIL BENDAHARA UMUM : ZAINUL MUTTAQIN
WAKIL BENDAHARA UMUM: OKKI JANUARDO

GP Ansor dan Satkoryon Banser PAC Kembaran Menyelenggarakan DTD Ansor/Banser

Belum lama ini kita disuguhkan satu peristiwa yang menghenyakkan bangsa Indonesia. Tanggal 14 Januari 2016, belum satu bulan terlewati dari tahun baru, Indonesia dikejutkan dengan serangan bom di hotel Sarinah bahkan sempat terjadi baku tembak antara pihak kepolisian dengan para teroris. Kejadian ini menjadi hal yang perlu di garis bawahi sebagai tanda bahwa ancaman terorisme yang mengatasnamakan agama semakin meningkat. Maka, perlu adanya kerja sama dari berbagai lapisan masyarakat baik pihak sipil, kepolisian, TNI maupun yang duduk diatas tahta DPR / MPR dan pemerintahan untuk bersatu padu untuk menangkal adanya serangan terorisme.



Salah satu bentuk kegiatan yang bisa dijadikan langkah penguatan bangsa dari serangan teroris maupun menngkal radikalisme filosofi sehingga mengarah kepada kekerasan bahkan pembunuhan adalah dengan mengkader pemuda, khususnya pemuda NU untuk  lebih reaktif dan siap untuk menjaga keamanan bangsa serta mengawal NKRI agar tetap berdiri dengan aqidah ahlu sunah wal jama'ah. Untuk itulah, GP ansor PAC Kembaran yang berkoordinasi dengan GP Ansor PC Kabupaten Banyumas berencana mengadakan Pendidikan dan Pelatihan Terpadu Dasar yang mana akan dilaksanakan pada hari Jum'at hingga hari minggu atau dari tanggal 29 - 31 Januari 2016.


Kegiatan DTD yang rencananya akan dilaksankan di Pondok Pesantren Mamba'ul Ushulil Hikmah Bakung desa Linggasari ini, diharapapkan dapat menjadi salah satu bentuk pengkaderan pemuda Indonesia khususnya pemuda NU di Kabupaten Banyumas agar lebih tanggap dan siap untuk berjuang di jalan Allah dengan haluan Ahlu Sunnah Wal Jamaah serta menjaga NKRI dari serangan baik dari luar maupun dalam negeri.

Menurut keterangan yang didapat dari ketua panitia yang juga merupakan Ketua PAC GP Ansor Kecamatan kembaran mengatakan bahwa " Diklat Terpadu Dasar merupakan diklat gabungan antara PKD dengan Diklatsar sehingga baik Ansor dan Banser dapat dikaderisasi agar menjadi pemuda yang siap berjihad memperjuangkan agama, nusa dan bangsa. Saya berharap dengan target peserta 300 orang, pada penutupan acara dapat meluluskan minimal 60 % peserta dari keseluruhan peserta diklat" katanya.


Kaderisasi NU Melalui Majelis Ahad Wage Pimpinan Ustadz Pranto

Pemuda adalah harapan bangsa. Lihat bagaimana aksi  pemuda dapat meruntuhkan rezim orde baru yang telah berkuasa selama 32 tahun.. Lihat pula bagaimana semangat bung tomo mengobarkan perang 10 November atas prakarsa fatwa resolusi jihad atau jangan lupakan sejarah ala bung Karno yang telah membuktikan bahwa negara ini tidak akan merdeka tanpa adanya peran pemuda - pemuda NU.


Peran vital pemuda memang tidak diragukan lagi namun sayangnya perhatian pada pemuda masih minim ditengah masyarakat Indonesia yang terbuai dengan sikap meterialisme dan hedonisme. Paradigma pemuda kemudian mulai berubah mengarah kepada kesenangan sesaat semata, dulu pemuda bahu membahu memperjuangkan kemerdekaan bangsa dengan pekikan takbir namun kini pemuda lebih memilih berjoged di tengah konser, menenggak miras atau memikirkan bagaimana terlihat gaul. Masih sangat sedikit pemuda yang faham makna nasionalisme sejati sehingga jangan heran ketika pemuda tidak terlalu perhatian kepada kemajun bangsa.

Hal ini begitu diperhatikan oleh Ansor Kembaran yang berusaha menanamkan semangat perjuangan ala Nahdliyin melalui berbagai kegiatan dan dimulai  di usia sedini mungkin. Contoh kegiatan yang  bertujuan untuk memebntuk kader aswaja yang telah berjalan adalah majelis Ahad Wage yang diprakarsai oleh Ustadz Muhammad Fahri Hafidz yang juga merupakan mantan Ketua Ansor Ranting Purwodadi dan kini menjabat pula sebagai Koordinator Bidang Teknnologi dan Kajian Strategis PAC Kembaran. 

Majelis Ahad Wage merupakan kegiatan bersholawat bersama dari beberapa desa di Kecamatan Kembaran yang merupakan perwakilan dari TPQ dan Pondok Pesantren di sekitar Kembaran. Niat baik mengadakan majelis ahad wage tersebut langsung didukung oleh sang pelatih hadroh Al Mukarom Arief Supranto yang merupakan mantan Ketua Banser Satkoryon Kembaran. Bapak dua anak ini kini menjabat sebagai Dewan Kesenian Ansor Kembaran. 

Beliau adalah sosok utama dibalik keberhasilan terselenggaranya majelis ahad wage. Jamaah hadroh yang ikut dalam majelis tersebut merupakan murid - murid beliau. Semangatnya dalam menghidupkan gema sholawat di desa Kembaran sangat luar biasa sehingga kemudian terbentuk lah grup - grup hadroh di kecamatan Kembaran. Terhitung ada beberapa grup di Kecamatan kembaran bahkan merambah di kecamatan Sumbang dan Sokaraja. berikut ini adalah grup - grup hadroh asuhannya :

1. Grup hadroh Khumairo dari Desa Karang Sari Pimpinan Ustadz Syarifudin
2. Grup Hadroh TPQ Sulamut Taufik dari Grumbul Dukuh Mekar Karang Tengah pimpinan Ustad Masroh
3. Grup hadroh Ponpes Sabilul Hidayah Karangtengah pimpinan Kyai Ali Rakhmat
4. Majelis Sholawat dan Ratibul Athos Ahbabur Rasul pimpinan Ustadz Amri latif
5. Grup hadroh Jurig Pliken pimpinan Ustadz Badri
6. Grup Hadroh Pliken Pondok Pesantren Pimpinan Romo Kyai Jamil 
7. Grup hadroh Remaja Masjid AL Abror dukuh Waluh Pimpinan Ustadz Sudirmanto
8. Grup hadroh Remaja Masjid Bundar NU pimpinan ustads Deden Dukuh Waluh
9. Grup hadroh Al Hidayah Pliken Pimpinan Ustadz Ali 
10. Grup hadroh dari Kaliori Kecamatan Kalibagor
11. Grup hadroh dari Banteran Sumbang,

serta grup hadroh lain yang tidak bisa dicatat satu persatu. Kesemua grup di atas merupakan hasil kerja kelas Ustadz Pranto. Tanpa beliau mejelis ahad wage tidak akan terlaksana. 

Kegiatan Ahad Wage dirintis dan dimulai di desa Purwodadi serta berlokasi di Masjid Baiturrohim Purwodadi dan dilanjutkan setiap malam ahad wage. Adapun tempat di gilir di setia grup hadroh. Kegiatan ini juga dihadiri oleh para ustadz di kecamatan Kembaran. 

Tadi malam, majelis Ahad Wage bertempat  di Masjid Bundar Dukuh Waluh dihadiri oleh Ketua Ansor PAC kembaran serta diamankan oleh Banser Kembaran. Acara tadi malam juga di isi tausiah oleh Kyai Zain Rahmatulloh pimpinan Majelis Attaisir Sambeng Kulon yang juga menjabat sebagai Ketua Ansor Kecamatan Kembaran. Kegiatan ini merupakan bentuk sinergitas antara para ustadz serta PAC kembaran yang semoga dapat diteruskan secara istiqomah sebagai upaya menghidupkan sunah - sunah nabi dalam bentuk bersholawat dan membaca maulid Nabi. 

Terkhusus untuk Ustadz Pranto mari kita doakan semoga bisa terus berdakwah melalui hadroh dan sholawat serta diberi kekuatan dan kemudahan dalam menghadapi segala kesulitan.





Sejarah Gerakan Pemuda Ansor

Kelahiran Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) diwarnai oleh semangat perjuangan, nasionalisme, pembebasan, dan epos kepahlawanan. GP Ansor terlahir dalam suasana keterpaduan antara kepeloporan pemuda pasca-Sumpah Pemuda, semangat kebangsaan, kerakyatan, dan sekaligus spirit keagamaan. Karenanya, kisah Laskar Hizbullah, Barisan Kepanduan Ansor, dan Banser (Barisan Serbaguna) sebagai bentuk perjuangan Ansor nyaris melegenda. Terutama, saat perjuangan fisik melawan penjajahan dan penumpasan G 30 S/PKI, peran Ansor sangat menonjol.
Ansor dilahirkan dari rahim Nahdlatul Ulama (NU) dari situasi ”konflik” internal dan tuntutan kebutuhan alamiah. Berawal dari perbedaan antara tokoh tradisional dan tokoh modernis yang muncul di tubuh Nahdlatul Wathan, organisasi keagamaan yang bergerak di bidang pendidikan Islam, pembinaan mubaligh, dan pembinaan kader. KH Abdul Wahab Hasbullah, tokoh tradisional dan KH Mas Mansyur yang berhaluan modernis, akhirnya menempuh arus gerakan yang berbeda justru saat tengah tumbuhnya semangat untuk mendirikan organisasi kepemudaan Islam.
Dua tahun setelah perpecahan itu, pada 1924 para pemuda yang mendukung KH Abdul Wahab –yang kemudian menjadi pendiri NU– membentuk wadah dengan nama Syubbanul Wathan (Pemuda Tanah Air). Organisasi inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Gerakan Pemuda Ansor setelah sebelumnya mengalami perubahan nama seperti Persatuan Pemuda NU (PPNU), Pemuda NU (PNU), dan Anshoru Nahdlatul Oelama (ANO).
Nama Ansor ini merupakan saran KH. Abdul Wahab, “ulama besa” sekaligus guru besar kaum muda saat itu, yang diambil dari nama kehormatan yang diberikan Nabi Muhammad SAW kepada penduduk Madinah yang telah berjasa dalam perjuangan membela dan menegakkan agama Allah. Dengan demikian ANO dimaksudkan dapat mengambil hikmah serta tauladan terhadap sikap, perilaku dan semangat perjuangan para sahabat Nabi yang mendapat predikat Ansor tersebut. Gerakan ANO (yang kelak disebut GP Ansor) harus senantiasa mengacu pada nilai-nilai dasar Sahabat Ansor, yakni sebagi penolong, pejuang dan bahkan pelopor dalam menyiarkan, menegakkan dan membentengi ajaran Islam. Inilah komitmen awal yang harus dipegang teguh setiap anggota ANO (GP Ansor).
Meski ANO dinyatakan sebagai bagian dari NU, secara formal organisatoris belum tercantum dalam struktur organisasi NU. Hubungan ANO dengan NU saat itu masih bersifat hubungan pribadi antar tokoh. Baru pada Muktamar NU ke-9 di Banyuwangi, tepatnya pada tanggal 10 Muharram 1353 H atau 24 April 1934, ANO diterima dan disahkan sebagai bagian (departemen) pemuda NU dengan pengurus antara lain: Ketua H.M. Thohir Bakri; Wakil Ketua Abdullah Oebayd; Sekretaris H. Achmad Barawi dan Abdus Salam.
Dalam perkembangannya secara diam-diam khususnya ANO Cabang Malang, mengembangkan organisasi gerakan kepanduan yang disebut Banoe (Barisan Ansor Nahdlatul Oelama) yang kelak disebut BANSER (Barisan Serbaguna). Dalam Kongres II ANO di Malang tahun 1937. Di Kongres ini, Banoe menunjukkan kebolehan pertamakalinya dalam baris berbaris dengan mengenakan seragam dengan Komandan Moh. Syamsul Islam yang juga Ketua ANO Cabang Malang. Sedangkan instruktur umum Banoe Malang adalah Mayor TNI Hamid Rusydi, tokoh yang namaya tetap dikenang dan bahkan diabadikan sebagai sama salah satu jalan di kota Malang.
Salah satu keputusan penting Kongres II ANO di Malang tersebut adalah didirikannya Banoe di tiap cabang ANO. Selain itu, menyempurnakan Anggaran Rumah Tangga ANO terutama yang menyangkut soal Banoe.
Pada masa pendudukan Jepang organisasi-organisasi pemuda diberangus oleh pemerintah kolonial Jepang termasuk ANO. Setelah revolusi fisik (1945 – 1949) usai, tokoh ANO Surabaya, Moh. Chusaini Tiway, melempar mengemukakan ide untuk mengaktifkan kembali ANO. Ide ini mendapat sambutan positif dari KH. Wachid Hasyim, Menteri Agama RIS kala itu, maka pada tanggal 14 Desember 1949 lahir kesepakatan membangun kembali ANO dengan nama baru Gerakan Pemuda Ansor, disingkat Pemuda Ansor (kini lebih pupuler disingkat GP Ansor).
GP Ansor hingga saat ini telah berkembang sedemikan rupa menjadi organisasi kemasyarakatan pemuda di Indonesia yang memiliki watak kepemudaan, kerakyatan, keislaman dan kebangsaan. GP Ansor hingga saat ini telah berkembang memiliki 433 Cabang (Tingkat Kabupaten/Kota) di bawah koordinasi 32 Pengurus Wilayah (Tingkat Provinsi) hingga ke tingkat desa. Ditambah dengan kemampuannya mengelola keanggotaan khusus BANSER (Barisan Ansor Serbaguna) yang memiliki kualitas dan kekuatan tersendiri di tengah masyarakat.
Di sepanjang sejarah perjalanan bangsa, dengan kemampuan dan kekuatan tersebut GP Ansor memiliki peran strategis dan signifikan dalam perkembangan masyarakat Indonesia. GP Ansor mampu mempertahankan eksistensi dirinya, mampu mendorong percepatan mobilitas sosial, politik dan kebudayaan bagi anggotanya, serta mampu menunjukkan kualitas peran maupun kualitas keanggotaannya. GP Ansor tetap eksis dalam setiap episode sejarah perjalan bangsa dan tetap menempati posisi dan peran yang stategis dalm setiap pergantian kepemimpinan nasional.
Buku Panduan Ramadhan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Sudutkan Tarawih 20 Rakaat

Buku Panduan Ramadhan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Sudutkan Tarawih 20 Rakaat

buku panduan ramadhan 1433 H, download buku panduan ramadhan 1433 HBuku Panduan Ramadhan,  yang sering kita jumpai pada anak-anak SD, SMP, SMU dan sederajatnya merupakan buku rutinan yang ada di kalangan pelajar kita. Namun pada buku panduan ramadhan yang satu ini berlainan, Nur Muhammad meminta kepada Kementrian Agama (Kemenag) Kabupaten Sragen untuk menarik dan merevisi buku panduan kegiatan bulan Ramadhan (KBR) 1433 Hijriah yang antara lain berisi muatan yang menyudutkan amalan shalat tarawih 20 rakaat. Buku yang diterbitkan Wijaya Ilmu itu dibagikan kepada siswa-siswi Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, itu dinilai berpotensi timbulkan konflik. GP Ansor Sragen, pada dasarnya menghormati perbedaan, tetapi buku panduan Ramadhan itu diterbitkan oleh institusi pemerintah yang seharusnya tidak menyudutkan salah satu golongan . ”Kalau buku itu diterbitkan semisal oleh Muhammadiyah, malah GP Ansor menghormati keyakinan mereka,” tegasnya kepada NU Online Selasa (24/7).
Orang tua siswa MI dibuat resah dan khawatir dengan isi buku panduan Ramadhan, buku itu, kata mereka berpotensi timbulkan konflik dan menyinggung keyakinan sebagian umat Islam.  “Salah satu materi di buku KBR, halaman 11 point H menjabarkan ibadah-ibadah sunah yang dianjurkan untuk dilaksanakan selama bulan Ramadhan. Pada point H no 8, tepatnya di halam 13, terdapat tulisan yang kurang lebih menyatakan hadits tentang Shalat Tarawih sebanyak 20 rakaat ditutup witir 3 rakaat, bersumber dari hadits dhaif atau lemah,” kata orang tua siswa MI Tangen, M Anas (40). Dikatakan Anas, tulisan itu dimuat di buku yang dibagikan kepada seluruh siswa MI di Kabupaten Sragen. Buku panduan Ramadhan, disusun oleh seorang pengawas PAI SD/MI, TK/RA Kabupaten Sragen. Anas menilai, tulisan itu tidak layak ditulis dan dibagikan kepada siswa, karena ditakutkan menyinggung keyakinan sebagian umat Islam dan bisa timbulkan konflik. “Saya kaget kali pertama membaca buku milik anak saya itu. Saya tidak mempermasalahkan benar masalah tulisan itu.Saya lebih berfikir tentang keyakinan masing-masing umat Islam. Bagaimana kalimat itu lolos begitu saja dari pantauan Kementrian Agama Sragen? Itu bisa membuat kisruh kalau tidak segera ditarik dan diralat,” katanya. Nurhayat (32) orang tua siswa juga menyayangkan tulisan itu lolos dari perhatian pemerintah. Kurang bijak apabila tulisan semacam itu beredar dikalangan siswa. Kementrian Agama Sragen, harus mengambil tindakan tegas,” usul Nurhayat. Baik Nurhayat maupun Anas, keduanya sudah melaporkan kepada kepala Madrasah Ibtidaiyah masing-masing. 
Mereka berharap ada tindakan tegas terkait kejadian itu. Menanggapi persoalan buku panduan Ramadhan, Irwan Junaidi, Kepala Seksi Madrasah dan Pendidikan Agama Islam pada sekolah umum (Kasi Mapeda) Kabupaten Sragen, menjelaskan sudah menerima laporan dari beberapa kepala sekolah MI terkait isi buku yang dinilai bisa menyinggung sebagian umat Islam. ”Kami sudah menarik buku panduan Ramadhan itu dari peredaran. Kami akan berkoordinasi dengan kepala MI di Kabupaten Sragen untuk mempercepat proses. Kami minta kepada semua orang tua atau wali murid jangan terprovokasi soal itu. Buku akan ditarik dan direvisi. Setelah itu akan dibagikan kembali dan tidak akan dipungut biaya sepeserpun,” ungkapnya. Ia berjanji secepatnya akan menyelesaikan persoalan buku panduan Ramadhan, namun Irwan juga belum mengetahui berapa eksemplar buku KBR yang sudah dibagikan kepada siswa MI di Sragen. Sementara itu, penulis buku panduan kegiatan Ramadhan untuk siswa MI di Sragen, Jawa Tengah, H Shulkan mengaku bertanggungjawab terhadap revisi isi buku yang dinilai meresahkan umat Islam. Ia tak menyangka isi buku di halaman 13 point H nomor 8 yang menyudutkan praktik ibadah shalat tarawih 20 rakaat. Menurut Shulkan, hal itu merupakan kesalahan teknis, karena seharusnya buku panduan itu melewati proses editing ditingkat pengawas atau Kasi Madrasah dan pendidikan agama Islam pada sekolah umum (Mapenda) Sragen. Tapi, apa yang terjadi, buku panduan itu langsung dicetak lantas diedarkan ke siswa MI se Kabupaten Sragen. ”Saya bertanggungjawab menyelesaikan persoalan ini. Buku itu sebetulnya memang belum layak cetak,” katanya. Selain persoalan hadits, kekeliruan juga terdapat pada tulisan huruf arab yang kurang sempurna. ” Masih ada beberapa kesalahan pada penulisan huruf arab yang ditulis dalam buku itu. Saya tahu itu sangat menyinggung umat Islam,” katanya di Sragen, Selasa (24/7). 
Sementara itu Kepala Sekolah MI Maarif Tanggan, Agus Wikukuh, sudah mendapat perintah dari Kasi Mapeda Sragen Irwan Junaidi, untuk menarik seluruh buku MI masing-masing sekolahan. Dikatakan Agus, di MI Tanggan, akanmenarik sebanyak 85 buku panduan. Buku seharga Rp 2.500,- per buku itu selanjutnya akan diserahkan ke kelompok Kepala Sekolah Madrasah Sukodono.  Krisna, Sekretaris GP Ansor Sragen, GP Ansor siap mendatangkan massa ke kantor Kementrian Agama (Kemenag) Sragen, apabila lembaga pemerintah itu tidak segera menarik buku panduan ramadhan. ”Saya mengecek ke beberapa sekolahan seperti di MI Desa Patihan, Sidoharjo, ternyata belum ada aktivitas penarikan buku. Guru setempat juga tidak mengetahui ada perintah penarikan buku panduan,” kata Krisna. Apabila dalam waktu dekat ini buku panduan itu tidak ditarik, maka GP Ansor kata Krisna, akan mendatangi Kemenag dan menuntut kepada pihak penerbit Wijaya Ilmu untuk minta maaf, lantaran ini ada indikasi kesengajaan. Kepala Kemenag Kabupaten Sragen, Muh Saidun, menjelaskan sudah bertemu dengan penulis buku panduan, dan buku itu akan ditarik dan direvisi. Sedangkan Agus, penerbit Wijaya Ilmu, siap melakukan cetak ulang sebanyak 3.000 eksemplar buku panduan Ramadhan. Proses mencetak ulang akan dilakukan setelah buku-buku tersebut selesai dikumpulkan dari masing-masing MI di Kabupaten Sragen. Terkait dengan hebohnya buku panduan Ramadhan bagi siwa MI, ketua Komisi IV DPRD Sragen, Suharjo menilai, ada indikasi kesengajaan dari pejabat Kemenag Sragen dalam mencantumkan kata-kata yang menyinggung kelompok tertentu. Komisi III berkeinginan menganggil Kepala Kemenag Sragen, untuk menjelaskan kepada wakil rakyat. ”Perbedaan keyakinan itu mestinya disikapi secara arif dan bijaksana, jangan sampai permasalahan perbedaan jadi masalah yang berpotensi mendiskriditkan kelompok tertentu. Kepala Kemenag harus bertanggungjawab,” tegas Suharjo, Buku Panduan Ramadhan.